Pengalaman Nyeleneh Pakai Editor Kode Ringan yang Malah Bikin Betah

Pengalaman Nyeleneh Pakai Editor Kode Ringan yang Malah Bikin Betah

Saya mulai artikel ini dengan pengakuan jujur: saya seorang yang biasanya menganut prinsip “lebih fitur = lebih cepat selesai”. Namun beberapa bulan terakhir saya terjebak—secara menyenangkan—dengan sebuah editor kode ringan yang awalnya saya coba hanya untuk tugas servis berkala pada beberapa repositori lama. Hasilnya tak terduga: pekerjaan rutin jadi lebih cepat, nyaman, dan bahkan sedikit menyenangkan. Tulisan ini adalah review mendalam berdasarkan pengujian nyata: startup time, pemakaian memori, fitur yang diuji, dan bagaimana ia menumpas kebosanan saat melakukan maintenance berkala (servis berkala) pada proyek-proyek warisan.

Mengapa editor ringan ini terasa “nyeleneh” tapi menarik

Apa yang membuatnya nyeleneh? Simpel: antitesis dari tren modern yang mengarah ke IDE gemuk. Di mesin lawas saya (MacBook Air 2016, 8GB RAM) dan di Raspberry Pi 4 (4GB), editor ini menyalak hampir instan — rata-rata 0.4–0.7 detik. Bandingkan dengan VSCode yang butuh 2–5 detik dan memakan sekitar 350–700 MB RAM pada setup yang sama; editor ringan ini stabil di kisaran 60–150 MB. Untuk pekerjaan servis berkala—update dependencies, refactor kecil, atau memperbaiki bug 1-2 baris—respons cepat ini mengurangi friction lebih dari yang saya duga.

Ulasan mendalam: fitur yang saya uji dan performa nyata

Saya melakukan rangkaian tes praktis: membuka proyek 50+ file, search across repo, multi-cursor editing, LSP (Language Server Protocol) sederhana, integrasi Git minimal, dan remote-SSH editing. Hasilnya konkret. Fuzzy search internal menemukan hasil across repo dalam <1 detik pada dataset ~120MB; spotlight untuk quick open juga tajam. Multi-cursor dan snippet bekerja mulus untuk tugas berulang—misalnya mengganti header komentar di 200 file untuk servis berkala dokumentasi.

Untuk LSP, editor ini menyediakan integrasi dasar: autocompletion, diagnostics, dan go-to-definition. Namun kemampuan debugging terintegrasi terbatas—breakpoint remote dan profiler tidak setara dengan VSCode atau JetBrains. Di sisi lain, built-in terminal dan split-pane sederhana membantu saat menjalankan script maintenance, dan plugin SSH membuat edit langsung di server staging terasa aman dan cepat. Pengujian pada file besar (100k baris log) menunjukkan editor tetap responsif—scrolling halus, search masih usable—sementara beberapa editor lain mulai tersendat.

Kelebihan dan kekurangan (termasuk aspek servis berkala)

Kelebihan nyata: kecepatan startup dan rendahnya penggunaan memori mengubah cara saya menjadwalkan servis berkala: saya lebih sering melakukan maintenance kecil tanpa menunda. Ekosistem plugin cukup sehat untuk kebutuhan sehari-hari—formatter, linter dasar, dan integrasi Git. Dukungan cross-platform konsisten; di Raspberry Pi, editor ini menjadi andalan saat melakukan patch darurat di server lokal.

Kekurangan juga perlu jujur: ekosistem tidak sebesar VSCode—beberapa ekstensi niche tidak tersedia. Debugging lanjut, profiling performa, dan UI visual untuk merge conflict masih kalah. Pada proyek besar yang memerlukan refactor mendalam dengan banyak test runner, saya kembali ke IDE penuh. Perlu juga disiplin servis berkala untuk editor itu sendiri: update plugin setiap bulan, bersihkan cache bila autocompletion mulai melambat, dan cadangkan konfigurasi—praktik sederhana yang menjaga performa tetap prima. Analoginya seperti merawat kendaraan; saya biasanya memakai layanan online seperti carmatseva untuk jadwal servis berkala—sama halnya dengan jadwal update dan pembersihan untuk alat pengembangan.

Kesimpulan dan rekomendasi praktis

Jika pekerjaan Anda banyak berisi servis berkala: memperbarui dependensi, patch kecil, review PR cepat, dan editing remote, editor ringan ini menawarkan efisiensi nyata. Kenapa? Karena ia mengurangi friction: kurang menunggu, lebih cepat kembali produktif. Namun bila tugas Anda melibatkan debugging kompleks, profiling, atau integrasi testing yang berat, kombinasi editor ringan untuk tugas rutin dan IDE berat untuk sesi mendalam adalah solusi terbaik.

Praktik yang saya rekomendasikan setelah pengujian: gunakan editor ringan untuk pekerjaan harian dan servis berkala; jadwalkan “sesi mendalam” di IDE lengkap untuk refactor besar; update plugin sebulan sekali; dan simpan konfigurasi di dotfiles agar bisa cepat restore. Terakhir, jangan remehkan kenyamanan: alat yang membuat Anda betah dipakai akan meningkatkan frekuensi servis berkala proyek—dan itu menghemat waktu serta headache dalam jangka panjang.